Kesepakatan Bangladesh dengan Pakistan untuk pengadaan jet tempur JF-17 Block III menjadi sorotan besar di Asia Selatan dan Timur Tengah. Dengan nilai sekitar 720 juta dolar AS, Bangladesh dilaporkan akan memperoleh 48 unit pesawat lengkap dengan paket persenjataan, pelatihan, serta dukungan logistik penuh.
Paket ini bukan sekadar pembelian pesawat. Di dalamnya termasuk infrastruktur operasional, fasilitas MRO (maintenance, repair, overhaul), suku cadang, serta pendampingan langsung dari pilot dan teknisi Angkatan Udara Pakistan hingga mencapai Full Operational Capability.
Jika dihitung secara kasar, nilai kontrak tersebut setara sekitar 15 juta dolar AS per unit JF-17 Block III, sudah termasuk armamen dan dukungan awal. Angka ini menjadikan JF-17 sebagai salah satu jet tempur multirole paling murah di kelas 4,5 generasi saat ini.
JF-17 Block III sendiri membawa kemampuan signifikan, mulai dari radar AESA, electronic warfare modern, helmet-mounted display/sight, hingga kemampuan peperangan jaringan. Ini menempatkannya jauh di atas jet generasi lama yang masih banyak dioperasikan negara berkembang.
Persenjataan yang ditawarkan juga bukan kelas ringan. Paket Bangladesh mencakup rudal BVR PL-15 dan SD-10, rudal jarak dekat PL-10, senjata stand-off H-4 dengan jangkauan sekitar 120 km, hingga kemungkinan integrasi Ra’ad II air-launched cruise missile.
Selain itu, terdapat pula opsi rudal anti-kapal untuk misi maritim dan perlindungan wilayah laut, menjadikan JF-17 relevan bukan hanya untuk pertahanan udara tetapi juga proyeksi kekuatan regional.
Dengan latar tersebut, muncul pertanyaan menarik: jika Arab Saudi memesan JF-17 dengan nilai 4 miliar dolar AS, berapa jumlah pesawat yang bisa diperoleh?
Secara matematis sederhana, jika harga paket Bangladesh dijadikan patokan kasar, 4 miliar dolar AS secara teoritis setara dengan lebih dari 260 unit JF-17 Block III. Namun, angka ini jelas tidak realistis untuk kontrak negara seperti Saudi.
Arab Saudi hampir pasti akan meminta standar kustomisasi jauh lebih tinggi, mulai dari avionik tambahan, integrasi sistem NATO-compatible, hingga paket persenjataan yang lebih mahal dan berlapis.
Selain itu, Saudi kemungkinan besar akan menuntut transfer teknologi terbatas, produksi atau perakitan lokal, serta kontrak dukungan jangka panjang bernilai miliaran dolar, yang otomatis mengurangi jumlah unit pesawat.
Dengan asumsi harga per unit naik signifikan, misalnya ke kisaran 25–30 juta dolar AS per pesawat lengkap dengan armamen dan dukungan strategis, maka anggaran 4 miliar dolar AS akan menghasilkan sekitar 130 hingga 160 unit JF-17.
Jumlah tersebut tetap sangat besar dan cukup untuk membentuk beberapa wing tempur penuh, sekaligus menggantikan atau melengkapi armada jet lama di inventaris Angkatan Udara Saudi.
Dalam konteks geopolitik, pembelian JF-17 oleh Saudi juga akan membawa dimensi politik penting. Ini menandai diversifikasi sumber alutsista dari ketergantungan tradisional pada Amerika Serikat dan Eropa.
Bagi Pakistan dan Tiongkok sebagai mitra utama program JF-17, kontrak sebesar itu akan menjadi terobosan strategis, mengangkat JF-17 ke level pemain global, bukan sekadar jet “negara berkembang”.
Dari sisi kemampuan tempur, meski JF-17 tidak setara jet generasi kelima, jumlah besar yang dilengkapi rudal BVR jarak jauh seperti PL-15 akan memberikan efek deterrence yang serius.
Untuk Saudi, pesawat ini bisa diposisikan sebagai tulang punggung kuantitas, sementara jet mahal seperti F-15 atau platform generasi baru difokuskan untuk misi elite.
Konsep ini mirip dengan apa yang dilakukan beberapa negara besar: kombinasi jet high-end dan jet cost-effective untuk menjaga rasio biaya dan kesiapan tempur.
Jika benar-benar terealisasi, kontrak 4 miliar dolar AS akan mengubah peta kekuatan udara regional, sekaligus menunjukkan bahwa JF-17 telah matang sebagai sistem senjata, bukan lagi proyek eksperimental.
Pengalaman Bangladesh memperlihatkan bahwa dengan biaya relatif terbatas, sebuah angkatan udara dapat melompat jauh menuju kekuatan presisi dan peperangan jaringan.
Dalam skenario Saudi, nilai 4 miliar dolar AS berpotensi menghadirkan 130–160 JF-17 Block III lengkap dengan armamen berat dan dukungan strategis, sebuah langkah yang bukan hanya soal jumlah pesawat, tetapi tentang redefinisi kekuatan udara dan arah politik pertahanan.
Dalam skenario yang banyak dibicarakan di kalangan analis pertahanan, Arab Saudi disebut tidak akan mengoperasikan seluruh unit JF-17 yang dipesan jika nilai kontraknya mencapai miliaran dolar AS. Sebagian pesawat justru diproyeksikan menjadi bagian dari strategi geopolitik Riyadh, yakni memperkuat negara-negara mitra dan wilayah konflik yang memiliki kepentingan langsung bagi keamanan Saudi. Skema ini memungkinkan Saudi membeli dalam jumlah besar untuk efisiensi biaya, sambil memanfaatkan kelebihan unit sebagai instrumen pengaruh regional.
Rumor yang beredar menyebutkan masing-masing sekitar 20 unit JF-17 akan dihibahkan atau dialihkan ke Sudan, Somalia, Suriah, dan Yaman. Jika terealisasi, langkah ini akan secara drastis meningkatkan kemampuan udara negara-negara tersebut dengan platform 4,5 generasi yang relatif mudah dioperasikan dan biaya pemeliharaannya rendah. Bagi Saudi, ini bukan sekadar bantuan militer, melainkan upaya membentuk arsitektur keamanan regional berbasis interoperabilitas, di mana sekutu-sekutu terdekat memiliki kemampuan udara yang selaras dan dapat berfungsi sebagai lapisan pertahanan tidak langsung bagi kepentingan Riyadh.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar